Dugaan Salah Sasaran Proyek Irigasi Rp1,5 Miliar di Ogan Ilir, Bangun Sumur Sawah di Lahan Sayur

InidiaNews.com-OGAN ILIR – Proyek Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) bernilai miliaran rupiah di Desa Sejaro Sakti, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, kini tengah menjadi sorotan hangat masyarakat.

Proyek yang sedianya dialokasikan untuk mengairi kawasan persawahan tersebut diduga salah sasaran lantaran dibangun di area yang bukan merupakan lahan padi.

Berdasarkan data pada papan informasi di lokasi, infrastruktur ini dinamai Sumur JIAT Sejaro Sakti – OI 7 yang terletak di Dusun I.

Proyek tahun anggaran 2025 ini berada di bawah wewenang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII.

Papan proyek tersebut mencantumkan spesifikasi debit pompa sebesar 2 liter/detik dan debit sumur 4,20 liter/detik, dengan penegasan peruntukan untuk irigasi sawah.

Namun, kondisi riil di lapangan memicu tanda tanya besar dari warga setempat.

Keluhan Petani: Kami Menanam Sayur, Bukan Padi

Yani, salah seorang petani setempat yang menggarap lahan di sekitar bangunan JIAT OI 7, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut sejak lama bukanlah area persawahan.

“Kalau di sekitar sini tidak ada yang bertani padi, Pak. Yang ada kami ini petani sayur,” ujar Yani saat ditemui di lokasi, Minggu 11 Oktober 2026.

Menurut Yani, hamparan lahan di sekitar fasilitas tersebut merupakan padang rumput dan kebun hortikultura.

Selama ini, para petani sayur lebih mengandalkan sumur bor pribadi yang mereka bangun sendiri secara swadaya untuk menyiram tanaman.

Akibat peruntukan yang dinilai tidak sesuai dengan komoditas lokal, fasilitas publik bernilai fantasis ini menjadi jarang digunakan.

“Kami lebih banyak menggunakan air sumur (pribadi) untuk menyiram tanaman sayur. Kalau air dari JIAT ini, sekali-sekali saja kami gunakan,” imbuhnya.

Fasilitas JIAT Lain Diduga Alami Kebocoran Pipa

Persoalan irigasi di Desa Sejaro Sakti ternyata tidak berhenti di Dusun I. Proyek serupa, yakni JIAT 5 OI yang terletak di Dusun II, juga dilaporkan warga mengalami kendala teknis.

Meskipun sempat mendapatkan upaya perbaikan berupa pemindahan tegangan listrik dan mesin, infrastruktur yang ditargetkan mampu mengairi lahan seluas 10 hektare tersebut dinilai belum berfungsi optimal.

Petani mengeluhkan adanya kebocoran pada jalur pipa distribusi yang tertanam di dalam tanah.

“Nyatanya satu hektare saja lagi tidak mampu. Pipa yang tertanam bocor di mana-mana, buktinya di lokasi jalur pipa tanahnya selalu basah dan bahkan muncul genangan air,” ungkap seorang petani setempat lainnya.

Kondisi di kedua titik ini memicu spekulasi di tengah masyarakat mengenai efektivitas perencanaan serta pengawasan berkala dari instansi terkait.

Proyek yang diharapkan menjadi solusi ketahanan pangan dan antisipasi kekeringan di musim kemarau tersebut dikhawatirkan tidak memberikan dampak optimal bagi masyarakat.

Sementara awak media masih terus berupaya menghubungi pihak BBWS Sumatera VIII selaku penanggung jawab regulasi dan pengerjaan proyek untuk mendapatkan klarifikasi serta keterangan resmi mengenai dinamika lapangan ini. Hingga berita ini diturunkan, pihak balai belum memberikan tanggapan. (Tim Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *